Putra Marsel Petu, Carlos Sara Masuk Golkar Ende

Partai Golkar Ende menyenggarakan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) pada Kamis 25 Juli 2019. Terdapat hal menarik dalam Musdalub yang berlangsung di Syuradikara Mart, Jalan W. J. Yohanes, Kota Ende.

Musdalub yang digelar guna memilih posisi ketua yang ditinggalkan oleh (alm) Marsel Petu dimenangkan oleh Heri Wadhi, setelah mendapatkan 19 suara mengalahkan Magy Sigasare yang mendapat 4 suara.

Menariknya, dalam Musdalub ini terdapat putra Marsel Petu yakni Carlos Sara. Carlos hadir lengkap dengan seragam partai Golkar.

Carlos duduk di deretan kursi paling depan bersama Ince Sayuna, Magy Sigasare, dan sesepuh Golkar.

Kejutan tak hanya sampai di situ, ketika ketua DPD Golkar NTT, Melki Laka Lena naik ke panggung menutup kegiatan, nama Carlos dibicarakan Melki secara khusus.

Melki Laka Lena meminta kepada Heri Wadhi, yang baru terpilih dalam Musdalub tersebut agar mengakomodir Carlos dalam kepengurusan.

Permintaan Laka Lena tersebut sekaligus mengonfirmasi bahwa Carlos Sara hadir di situ bukan sebagai undangan, melainkan sebagai kader Golkar.

Cerita Carlos Masuk Golkar

Carlos Sara yang ditemui di kediamannya di Jalan Rambutan, Kota Ende (26/7), membenarkan bahwa dirinya telah mengambil pilihan berpolitik melalui Golkar.

Cerita Carlos, pilihan masuk dunia politik sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan sebelum Marsel Petu meninggal.

Carlos, yang saat itu baru menetap di Ende setelah menyelesaian kuliah dari fakultas hukum, Atma Jaya, sering diajak oleh Marsel mengikuti berbagai kegiatan.

Menurut Carlos, hal itu amat berbeda dengan sikap Marsel Petu sebelum dirinya menamatkan kuliah. Sebelumnya, Carlos amat jarang diajak mengikuti kegiatan-kegiatan yang dijalani Marsel, apalagi kegiatan politik.

“Bapak seperti promo saya,” kata Carlos.

Pernah suatu ketika, ayah-anak ini bersama-sama mengikuti kegiatan yang dihadiri khalayak ramai. Sambil menatap kerumunan orang yang mengikuti kegiatan itu, Marsel berbisik guyon ke Carlos.

“Ini kalau kau maju, ‘rata’ (menang) buat kau,” ulang Carlos, tersenyum.

Karena peristiwa-peristiwa itu Carlos merasa pilihan masuk politik sesuai dengan keinginan ayahnya.

“Maksudnya, dia (Marsel Petu) sudah ada investasi sosial buat saya. Itu yang saya baca,” kata Carlos.

Setelah Marsel Petu meninggal, niat Carlos berpolitik kian mapan. Karena itu ia lantas meminta pandangan ibunya, Ny. Ilmoe.

Ny. Ilmoe berat hati pada mulanya. Menurut Carlos, ibunya masih belum bisa melupakan peristiwa yang dialami Marsel.

Namun akhirnya ia legowo atas niat Carlos. Perasaan Ny. Ilmoe semakin dikuatkan setelah kunjungan dadakan Melki Laka Lena.

Satu hari menjelang Musdalub, Melki Laka Lena ketua DPD Golkar NTT beserta sekretaris, Ince Sayuna bertandang ke kediaman mereka.

“Kita juga tidak tahu, sementara duduk-duduk sore begini, mama (Ny. Ilmoe) lagi duduk di meja do’a, tidak lama ada mobil om Melki datang.”

Terjadi perbincangan antara Ny. Ilmoe, Melki Laka Lena dan Ince Sayuna dalam pertemuan itu. Beberapa saat berselang, mereka bertiga memanggil Carlos nimbrung dalam perbincangan tersebut.

Tanpa diduga Melki Laka Lena dan Ince Sayuna mengajak Carlos bergabung jadi kader Golkar. Ny. Ilmoe setuju.

Padahal, Carlos menuturkan, Melki Laka Lena dan Ince Sayuna tidak pernah mengetahui niatnya yang memang ingin berpolitik melalui Golkar. Karena itu dirinya amat terkejut atas peristiwa yang sejalan secara natural tersebut.

Prospek Carlos di Golkar terlihat pada saat Musdalub berlangsung. Saat hendak menutup kegiatan, Melki Laka Lena kembali menunjukan perhatiannya.

Dari podium Melki Laka Lena meminta kepada Heri Wadhi yang baru saja terpilih, melibatkan Carlos dalam kepengurusan dan berbagai kegiatan partai.

Ditanyakan mengenai hal tersebut Carlos, pada prinsipnya mengatakan siap memulai proses dari jenjang paling bawah.

Dirinya menambahkan, sebelumnya, Ince Sayuna telah memberikan sedikit gambaran mengenai berproses di dalam partai.

Ince Sayuna memang sering menceritakan pengalaman pribadinya ketika pertama kali berpartai, untuk memotivasi kader. Hal itu juga ia berikan kepada Carlos.

Pengalaman Ince tergolong berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Ince memulai karirnya di Golkar sebagai tukang bantu-bantu (bantu antar surat, angkat kursi, dsj), tetapi sekarang ini jabatannya mentereng: sekretaris DPD Golkar NTT.

Berkaca dari pengalaman Ince Sayuna, Carlos merasa dirinya termotivasi dan akan bekerja sebaik mungkin di posisi manapun ia ditempatkan.

Terkait masa depan Carlos di Golkar, Heri Wadhi, ketua terpilih Golkar Ende yang dihubungi endeh.id (26/7) menyatakan apresiasinya atas pilihan yang diambil Carlos.

Menurut Heri langkah yang diambil Carlos sejalan dan bertepatan dengan geliat Golkar NTT saat ini yang sedang berupaya memasukan anak-anak muda dalam kepengurusan.

Langkah mengakomodir kalangan milenial ke Golkar telah dimulai dan berhasil di lakukan di tingkat propinsi oleh Laka Lena.

Karenanya, langkah tersebut akan disusul oleh dirinya selama memimpin Golkar Ende. Dan Carlos, menurut Heri berada pada momentum yang tepat.

“Carlos layak masuk dalam kepengurusan, karena memang usianya sudah sangat dewasa untuk terjun di dunia politik, dan saya ikuti terus perkembanganya. Saya kira anak-anak muda perlu kita masukan, sesuai amanat pak ketua Golkar Propinsi,” kata Heri.

Langkah-langkah lainnya yang telah berhasil dilakukan oleh Golkar di tingkat propinsi juga akan diupayakan terealisasi. Misalnya menjadikan Golkar sebagai partai yang akrab dengan kalangan milenial.

Namun, ia menekankan bahwa 6 bulan ke depan atau selama kepemimpinannya, fokus utama Golkar Ende tetaplah kepada konsolidasi partai.

Agustinus Rae